One First Kiss, One Last Dance

Cast : Cho Kyuhyun (Marcus Jones), Son Sooyeon (Florence Swann), Kris Wu (Kris Woods)
Disclaimer : I wanna own both of these handsome young-men, but nah, they’re SM Ent’s. I only own Flo and the story itself.
a/n : I know your first thought after reading this; “TITANIC!” and yes, I got the idea while watching Titanic 3D B-) Lulz.

“Loosen it a little bit,” Flo said while looking at her own reflection on the mirror—herself with only a white corset on her body. Molly wasn’t listening, she kept tighten the laces on the Young Lady’s corset. “Molly!” cried Flo.

“Yes, Miss, I’m sorry,” Molly bowed down, scared, “but Madam told me you have to look perfect tonight,” she started loosen the laces as her eyes met Flo’s on the mirror.

Flo smiled, she touched Molly’s hand after the maid finished with the corset. “Molly, it’s not even my wedding tonight,” she said. Molly didn’t say anything. She took a sapphire satin night gown and helped Flo dressed herself.

Well, she was on a cruise. Lady Elisa was having her birthday party and she was invited. If Elisa was the queen of the party that night, then Florence would be the one who present as the most eyeful guest, as yesterday her family announced her engagement with Lord Marcus Jones. Young pretty lady and young handsome man. No doubt, everyone would turn green with envy.

“Fits perfectly on you, My Lady,” Molly stepped backward after having herself satisfied with her job.

Then, a knock was heard and Molly opened the door. Florence blushed as Marcus stepped in and said, “You look stunning, My Lady,” and then kissed her hand.

“You shouldn’t be here,” said Flo.

Marcus smiled. He stood behind his fiancée and touched her bare shoulders with his two hands, “Tonight is your last night being free, darling,” he whispered, “Enjoy your time, will you?” Marcus kissed her cheek after saying that and left.

His words were somehow sharp. Florence knew she didn’t have much time to enjoy her youth anymore. She’ll be Mrs. Jones in a couple weeks.

The party was boring, like how Flo’s predicted. Everyone dressed to kill, but all they did was just showing off. Florence didn’t find it fun at all, so shemoved stealthily out of the ballroom and walked out to the deck. The air was much fresher outside. She inhaled and enjoyed the scent of ocean, and not long after that, she just found herself daydreaming. She leaned on a mast and spent minutes on thinking about the days she’ll be married to Marcus and how she wouldn’t be free anymore. Read the rest of this entry »

It’s Too Cold Outside

Seoul’s weather was being unfriendly that day. Kyu-hyun and Soo-yeon took their steps home together but still felt heavy. Every single road in Seoul had already layered by snow in that early winter.

Soo-yeon stopped for a while, trying to catch her own breath. It was hard to even breathe, the air was too cold. She took a very deep inhale and looked up the sky, immediately wiped her nose. The fallen snowflakes melted right after they touched Soo-yeon’s skin.

“Hatchi!” She sneezed in despair.

Suddenly, Kyu-hyun’s hand came out from nowhere and snatched Soo-yeon’s away from her nose. He held his girlfriend’s bare hand firmly and put it into his pocket. They started walking down the street again, putting their steps in a rhythm. A warm feeling flowed Soo-yeon’s body as soon as Kyu-hyun tighten his grip over her hand. She swore that everyone they passed over those two minutes were having their eyes on them and turned green with envy seeing them walking together like that.

“Seems like our school has to provide winter uniform,” Kyu-hyun said with heavy breath, playing with Soo-yeon’s fingers in his grip. Read the rest of this entry »

(This is still about Kyuhyun and Florence [kkk] and takes place in Oxford. But a lil bit OOC of the LIB’s ones. Well, enjoy ;) ~^^)

#In The End of Fall

Selembar daun yang sudah menguning jatuh di tepat di ujung sepatunya. Flo memungut daun itu dan meremasnya, begitu rapuh. Gadis itu menyibak rambut cokelat gelapnya yang jatuh ke sekitaran wajah, mengadah melihat langit sambil melepaskan sisa-sisa koyakan daun yang diremasnya.

Masih biru cerah, warna langit itu.

Tapi pemandangan pepohonan botak, angin musim gugur yang menusuk, dan rasa kesal yang membudah menghapus sensasi nyaman di hati Flo.

Tes..

Tanpa sadar sebutir air mata menggelinding lewat cekungan matanya. Flo buru-buru menyekanya dan berdeham pelan. Ia merapatkan mantel di atas seragam Oxford High-nya yang mulai kekecilan, lalu melanjutkan langkah menuju halte bus.

Guncangan yang muncul ketika bus bergerak membuat kepala Flo terantuk tiang ramping di sebelahnya. Ia meringis sambil mengusap dahi, lalu kembali diam. Melanjutnya mengutuk dalam hati.

Cho Kyuhyun, you jerkkk!! Read the rest of this entry »

Title : Sunflower
Cast : Min Sunye, Lee Donghae
Genre : Romance
Length : Drabble
Disclaimer : The only that I own is the plot

It nearly set, the sun. Verona’s twilight sky was just too breathtaking to resist. I liked sitting there on the sidewalk—one with sunflowers around, along with a land of a green tall grasses. Watching sunset. None to do but let my feet touched each other with the grasses, while my hand was there linked with his. The wind shouted but my arms were still warm in this embrace. I felt like telling my wristwatch to stop tic-toc-ing

We hadn’t speak a word. I didn’t mind, because his warm breath lingered on me, telling how much he had that feeling toward me.

Love.

“Let’s be like them,” he finally spoke.

I turned my head, my nose nearly bump his, “Like who?”

“The sunflowers,” he held my hand, “and the sun.”

No words came out from mine. I just let him continued.

“The sunflowers, they’re just so faithful. They always get their head toward the sun, wherever the sun goes. Even when the sun sets, they’ll wait.”

I watched a dark sky above. The sun had set.

“So, you will wait for me?”

“I will.”

Title : The Missing Puzzle
Lenght : Two-shots
Main cast : Lee Jieun (IU), Cho Jino (SM The Ballad’s Jino)
Other cast : Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun)
Disclaimer : My first duet w/ beloved sista Kak Gia !! (yeay!) This is all her original idea and i just continue what she already built, so yeah, this is ours! About who writes what, just guess! (lol). I know this is crazy to pair IU-Jino but we just think they’re so cute together. Btw, the beautiful poster is made by @raraawr. So, enjoy our story! Comments r supa luuuuved!

Jieun menyeret flat shoes-nya memasuki lobby Seoul National Hospital dengan tidak bersemangat. Pikirannya dipenuhi terlalu banyak masalah tentang Jino, Kim Sunghee ahjumma, Cho Insung ahjussi, dan sesi clinical study-nya. Wajahnya terlihat sangat kusut dan tatapan matanya kosong. Sampai-sampai ia tidak membalas sapaan Yang Yoseob, teman sekelasnya, yang juga sedang melakukan clinical study-nya di departemen penyakit dalam.

Ia sampai di koridor lantai empat dan menyadari kalau keadaannya cukup lengang. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai keramik putih bersih itu. Ia melirik jam tangannya. Masih pukul sembilan pagi. Mungkin beberapa perawat dan dokter sedang melakukan pemeriksaan pagi ke kamar-kamar pasien.

Setelah menaruh tas dan beberapa perlengkapannya, Jieun memakai jas putihnya dan mengalungkan stetoskopnya, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar perawatan Kim Sunghee ahjumma. Ingin mengucapkan selamat pagi sekaligus memeriksa kondisi wanita itu pagi hari ini. Semoga saja ia sudah bangun.

Saat hendak membuka pintu, Jieun menyadari kalau sudah ada orang lain di dalam ruangan itu. Punggung tegap yang masih mengenakan setelan jas hitam, lengkap dengan sepasang sepatu pantofel mengilapnya, duduk di samping tempat tidur. Menatap wanita yang masih tertidur di situ dengan tatapan penuh kasih sayang. Sesekali ia mengusap kening istrinya dan menyingkirkan beberapa rambut yang tersampir di wajahnya. Beberapa kali ia tersenyum dan membuat wajah tampannya yang terlihat tegas melembut, namun menyiratkan rasa lelah yang luar biasa. Sinar penyesalan tampak jelas saat setetes airmata meluncur jatuh di pipinya, yang buru-buru dihapusnya.

Jieun tersenyum namun merasakan matanya menghangat.

“Annyeonghasseo.” ucap Jieun pelan sambil melangkah memasuki ruangan itu.

Cho Insung langsung menoleh ke arah pintu, sedikit salah tingkah sambil kembali mengusap wajahnya. Barangkali menghapus sisa-sisa air mata agar gadis manis di hadapannya tidak tahu kalau ia habis menangis.

“Ah, Jieun-ah? Kau sudah datang?” tanyanya sambil tersenyum. Jieun membalas senyum pucat itu. Mata Cho Insung ahjussi tampak lelah dan kantung matanya bengkak. Terlihat habis begadang dan menangis semalaman.

Ia tahu kalau ahjussinya ini tidak seperti yang dipikirkan Jino. Ia masih Cho Insung ahjussi yang hangat, yang dikenalnya bertahun-tahun lalu.

“Eomma, belum bangun?” kening Cho Insung berkerut sedikit mendengar panggilan itu terucap dari bibir Jieun. Namun sesaat kemudian ia mengerti dan menoleh ke arah istrinya.

“Semalam ia tidak bisa tidur, baru bisa tidur sekitar jam dua pagi. Semalam ia terus mengajakku mengobrol. Apa saja. Tentang Jino yang ketahuan membolos saat sekolah dasar, atau saat Jino terpilih menjadi ketua kelas saat sekolah menengah pertama. Aku sampai kewalahan meladeninya.” ujarnya sambil kembali tertawa kecil dan mengusap kening istrinya lagi.

“Ahjussi? Mau mengobrol sebentar denganku?” tanya Jieun. Ia lalu melirik ke arah Kim Sunghee ahjumma yang masih terlelap. “Tapi tidak di sini. Aku takut Eomma terbangun.”

Cho Insung melirik Jieun dengan tatapan bingung bercampur ingin tahu.

“Tapi bagaimana jika ia bangun dan kita tidak ada di sampingnya?”

Jieun tersenyum mendengar nada khawatir itu.

“Jangan khawatir. Itu sudah sering terjadi. Perawat akan segera datang sebentar lagi. Lagipula, kita hanya mengobrol sebentar saja.”

Cho Insung tampak berpikir sedikit lalu mengangguk pada Jieun.

“Kebetulan, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu.”

***

Jieun menerima dua cangkir teh hangat dari ahjumma yang mengantarkan minuman pesanannya sambil mengucapkan terima kasih. Jieun mendorong cangkir putih bersih itu mendekat pada Cho Insung ahjussi, yang menerima minuman itu sambil tersenyum.

“Masih ingat minuman favoritku, Jieun-ah?” tanyanya.

Jieun mengangguk perlahan.

“Aku ingat. Saat ahjussi sangat sibuk dan lelah, Eomma selalu membuatkan satu cangkir teh ginseng hangat untuk ahjussi. Ah, tanpa gula yang berlebihan.”

Cho Insung tersenyum mendengar nada tulus yang terdengar dari ucapan Jieun. Menghangatkan hatinya tanpa disangka-sangka. Membuat akar penyesalan yang sejak kemarin merambati hatinya mulai hilang sedikit demi sedikit.

“Dimana Jino, Jieun-ah?”

“Dia ada di rumah Cho Kyuhyun-shi. Menginap di sana. Membantunya mengurus launching studio musik barunya di Gangnam.” Jawab Jieun. Merasakan ekspresi ahjussi-nya mengeras saat mendengar nama Cho Kyuhyun disebut. Tapi tidak lama, ia kembali tersenyum beberapa saat kemudian. Senyum getir dan penuh penyesalan.

“Anak itu sudah melalui masa-masa sulit yang kusebabkan. Biarkan ia rileks sedikit.”

Sunyi terasa memuakkan. Jieun berharap ada sesuatu yang bisa ia katakan. Tapi nihil, tidak ada kata-kata yang dirasakannya pantas untuk dilontarkan.

“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Pertemuan terakhir kita berada dalam situasi yang sangat buruk. Maafkan aku.”

Jieun hanya menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, ahjussi. Situasi seperti itu memang terkadang tidak bisa dihindari. Ya, seandainya ahjussi bisa menahan sedikit emosimu. Jino tidak akan semakin membencimu.” ujar Jieun blak-blakan. Cho Insung ahjussi kembali mengangguk-angguk perlahan sambil menyesap teh ginsengnya.

“Aku berpikir keras selama beberapa hari ini, Jieun-ah. Hingga otakku sampai di satu kesimpulan. Aku ini ayah yang sangat buruk ya?” tanya Cho Insung sambil melirik Jieun yang terdiam. Gadis itu menoleh padanya lalu tersenyum kecil.

“Ahjussi bukan ayah yang buruk. Ahjussi hanya melakukan kesalahan. Kesalahan adalah hal yang lumrah dilakukan oleh setiap manusia.” Jawabnya.

“Tapi kesalahanku ini sangat fatal. Aku sudah membuat anak dan istriku sendiri menderita. Sedangkan aku.. masih bersembunyi di balik kesibukanku dengan bisnis. Aku ini egois.” ujarnya. Nada suaranya terdengar begitu menyedihkan. Jieun mengerti betapa merananya ia.

Telapak tangan itu terasa sangat dingin dan kasar. Jieun meremasnya sedikit, mencoba mengalirkan sedikit ketenangan.

“Ahjussi, kau sama sekali belum terlambat untuk meminta maaf. Kau sama sekali belum terlambat untuk merengkuh hati Jino kembali. Kau sama sekali belum terlambat untuk kembali mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk Eomma. Ahjussi sama sekali belum terlambat.”

Cho Insung menatap Jieun dengan tatapan penuh kesangsian.

“Ada seseorang yang kini menganggap aku sebagai penjahat yang menghancurkan hidupnya, Jieun-ah. Ia sudah sangat membenciku. Dan orang itu adalah anakku sendiri. Anak yang sudah kebesarkan dengan sepenuh hati..” Cho Insung tersenyum getir sebelum melanjutkan kalimatnya. “aku terlalu menyayanginya, terlalu memaksanya untuk sukses dalam versiku sendiri. Padahal ia membencinya. Itu bukan jalan hidup yang ia pilih. Sekarang aku sangsi apakah ia masih menganggapku sebagai ayahnya atau tidak. Aku ragu-ragu ia mau menerima maafku atau tidak.” Read the rest of this entry »

Title : The Missing Puzzle
Lenght : Two-shots
Main cast : Lee Jieun (IU), Cho Jino (SM The Ballad’s Jino)
Other cast : Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun)
Disclaimer : My first duet w/ beloved sista Kak Gia !! (yeay!) This is all her original idea and  i just continue what she already built, so yeah, this is ours! About who writes what, just guess! (lol). I know this is crazy to pair IU-Jino but we just think they’re so cute together. Btw the beautiful poster is made by @raraawr. So, enjoy our story! Comments r supa luuuuved!

Jieun sedikit berlari sambil memakai jas putihnya dan mengalungkan stetoskopnya. Ia menghela napas kesal ketika memasuki lobby utama rumah sakit megah itu. Suasana Seoul National Hospital hari ini cukup hectic. Membuatnya harus ekstra hati-hati dalam berlari, ia tidak ingin menabrak salah satu pengunjung. Ketika ia melirik jam tangannya, Jieun kembali mengeluh dan mempercepat langkahnya. Ia sudah terlambat lima menit. Kim Sangyu sonsaengnim, yang menjadi supervisor clinical study-nya kali ini adalah orang yang amat sangat on time. Tidak ada toleransi keterlambatan untuk para mahasiswanya.

Ia memang bangun agak terlambat pagi ini. Padahal ini hari pertamanya melakukan clinical study di rumah sakit ini. Membuat semua rencananya berantakan. Ia jadi serba buru-buru mempersiapkan dirinya. Belum lagi, ia terlanjur terjebak kemacetan karena ada kecelakaan kecil di jalan tadi. Jieun tidak ingin hari pertama clinical study-nya menjadi neraka hanya karena dimarahi habis-habisan oleh Dokter killer itu.

Jieun berlari ke arah lift yang akan membawanya ke lantai empat. Dimana departemen neurology terletak. Tempat Kim Sangyu sonsaengnim melakukan prakteknya. Tapi memang nasibnya hari ini sedang tidak bagus. Wedges-nya tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya ketika Jieun melewati lantai yang belum kering setelah dibersihkan oleh cleaning service. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuatnya berpegangan pada tubuh seseorang terdekat yang bisa digapainya. Hasilnya? Jieun dengan sukses memeluk orang asing itu.

Demi Tuhan, mengapa aku amat sangat sial sekali hari ini? Pikirnya kesal.

Kini perhatian Jieun teralih pada orang asing yang kini ia peluk. Memikirkan seribu macam cara bagaimana meminta maaf dengan baik, masuk akal, dan tidak terdengar bodoh. Walaupun mungkin mustahil. Ia sudah terlanjur terlihat bodoh.

“Agashi, apakah kau tidak apa-apa?” tanya orang asing itu. Tubuhnya tidak terlalu besar. Tapi laki-laki ini cukup jangkung dan tubuhnya cukup muscular.

Jieun dengan perlahan melepaskan pelukannya pada laki-laki itu yang masih kencang akibat terkejut. Ia langsung membungkuk berkali-kali pada orang asing itu, tidak berani menatap wajah laki-laki di hadapannya.

Jwaesonghamnida!! Saya tidak sengaja. Maafkan saya, maafkan, maaf.” ujar Jieun berkali-kali.

“Tunggu dulu. Kau.. Jieun? Lee Jieun kan?” Jieun langsung berhenti membungkuk ketika orang asing itu menyebutkan namanya. Ia mendongak menatap laki-laki di hadapannya, yang menyambutnya dengan senyum yang sangat dikenalnya, senyum cute yang sangat khas..

Dan tidak pernah ia lupakan.

“JINO-YA!! KAU CHO JINO KAN?” ujar Jieun sedikit berteriak. Melebarkan tangannya dan nyaris melompat untuk memeluk Jino lagi. Melupakan kalau beberapa saat yang lalu ia sedang terburu-buru menuju departemen neurology.

“Yah! Yah! Tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Mengapa kebiasaan bisingmu sejak sekolah dulu tidak pernah berubah?” ujar Jino sambil mengacak-acak rambut Jieun. Tapi ia juga memeluk Jieun erat. Ia sangat merindukan gadis ini.

Jieun melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap sahabat baiknya semasa sekolah dulu, Cho Jino kini berdiri tepat di hadapannya. Ia dan Jino berpisah ketika lulus SMA. Lee Jieun si anak pintar namun ceroboh berhasil masuk Fakultas Kedokteran Seoul National University. Sedangkan Cho Jino si anak pengusaha kaya disekolahkan ayahnya di Bristol Business School di Inggris. Awalnya mereka berencana untuk selalu keep in touch satu sama lain. Tapi, karena mereka sama-sama kuliah di kampus yang cukup bergengsi namun cukup membuat mereka sangat sibuk, sedikit banyak frekuensi komunikasi mereka perlahan berkurang dan akhirnya hilang sama sekali.

“Aku tidak pernah bisa membayangkan kalau kau akhirnya bisa memakai pakaian dokter seperti ini, Jieun-ah.” ujar Jino sambil memperhatikan jas putih dan stetoskop yang tergantung di leher Jieun.

“Maksudmu? Ini kan sudah cita-citaku sejak kecil.”

“Maksudku, aku tidak pernah bisa membayangkan Lee Jieun yang bising dan ceroboh akhirnya bisa meraih impiannya kuliah di fakultas kedokteran dan sebentar lagi akan menjadi dokter yang sesungguhnya.” ujarnya sambil tersenyum lagi.

Jieun tertawa kecil mendengar komentar Jino. Jieun yang bising dan ceroboh. Dua deskripsi itu selalu Jino gunakan jika menyebut dirinya. Betapa ia merindukan kata-kata itu terdengar dari mulut Jino lagi.

“Aigoo~ Baby smile-mu ternyata belum hilang, Jino-ya!” ujar Jieun sambil tertawa. Jino langsung cemberut ketika Jieun menyebut senyumnya dengan sebutan baby smile. Senyumnya memang sering disebut cute dan lucu seperti anak kecil. Tapi, ia selalu tidak suka mendengar julukan itu. Terkesan childish baginya.

“Yah! Mengapa sebutan norak itu masih kau gunakan juga? Aku kan sudah menjadi pria seutuhnya, Jieun-ah. Bukan anak kecil lagi!” keluh Jino sambil menjitak kepala Jieun perlahan.

Jieun tergelak mendengar komentar Jino. Sahabatnya ini memang sudah berubah banyak. Badannya yang dulu kurus dan kerempeng kini sudah cukup muscular. Memang tidak terlalu beastly seperti idola Jieun, Jang Wooyoung dan group-nya 2PM, tapi itu cukup untuk Jino. Tinggi badannya juga bertambah banyak. Kini tinggi Jieun hanya sebatas telinga Jino. Padahal, dulu ketika mereka sekolah, Jino selalu diejek karena tinggi badannya yang sama dengan Jieun.

“Eh? Mengapa kau ada di Seoul? Bukankah kau masih sekolah bisnis di Bristol?”

Jino tersenyum tipis. Senyum yang seingat Jieun selalu Jino keluarkan ketika laki-laki ini menutupi sesuatu dari Jieun.

“Ada.. suatu urusan yang harus kuselesaikan di Seoul. Kau sendiri? Ada urusan apa di rumah sakit ini? Pertemuan dengan dosenmu?” tanya Jino. Membuat Jieun langsung teringat apa tujuannya datang kemari. Perkataan Kim Sangyu sonsaengnim minggu lalu terlintas kembali dalam pikirannya.

Departemen neurology. Seoul National Hospital lantai empat. Jam sepuluh pagi. Jangan terlambat barang satu menit pun.

Jieun dengan panik melirik jam tangannya dan langsung ternganga ketika menyadari jarum panjang di jam tangan analog itu sudah menunjuk ke angka empat. Jam sepuluh lebih dua puluh menit. Yang bisa dideskripsikan sebagai: ini neraka, ia sudah terlambat hampir setengah jam.

“AIGOO!! Aku terlambat! Aku terlambat! Kim Sangyu sonsaengnim pasti membunuhku! Pasti!!” keluh Jieun.

“Kim Sangyu sonsaengnim? Aku mengenalnya. Dia..”

“Jino-ya. Aku harus pergi sekarang! Sonsaengnimku pasti membunuhku. Aku sudah sangat terlambat! Sampai jumpa!” ujar Jieun sambil menghambur ke arah lift yang pintunya kebetulan sedang terbuka. Tidak menghiraukan perkataan Jino yang ia potong karena ia sangat terburu-buru.

Jino hanya tersenyum tipis lagi dan memperhatikan lift transparan itu terbang sampai lantai empat. Membawa Jieun pergi darinya. Ia menghela napas pelan lalu melangkahkan kakinya ke arah kafetaria rumah sakit. Ia membutuhkan sesuatu yang bisa membuat pikirannya lebih jernih.

***

“Ada kabar baik untukmu, Lee Jieun.” Suara berat dan berwibawa Kim Sangyu sonsaengnim terdengar memenuhi ruangan prakteknya yang memang terasa sepi luar biasa. Jieun bersyukur ia tidak terlambat. Ketika ia sampai di lantai empat, Kim Sangyu tengah menangani pasien. Sehingga ia tidak terkena omelan panjang lebar kali ini.

“Benarkah sonsaengnim? Ini soal clinical study saya di sini?”

Kim Sangyu mengangguk lalu mengeluarkan senyum langkanya pada Jieun. Read the rest of this entry »

- nothing but love,

can go through anything -

Gadis itu menuruni tangga dengan hati-hati. Kelewat pelan karena ia menapaki kedua kakinya di tiap anak tangga. Sesekali ia meniup rambut cokelatnya yang jatuh ke dahi atau menyingkap anak rambut ke belakang telinga.

Gestur yang terlalu gugup untuk seorang brilian macam Hermione Granger.

Sampai kakinya berhenti di depan pintu asrama, ia masih skeptis. Butuh sekian detik buatnya untuk mantap dan akhirnya melangkah keluar.

“Aku terlihat oke, kan?” batinnya pada jendela raksasa, memaksa matanya mencari refleksi pada celah kaca yang tidak tertutup keramik berwarna pembentuk lukisan. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga yang tersisa.

“Kenapa begitu gugup, Granger?” tiba-tiba Hermione mendapati sosok tinggi itu menyembul dari balik tangga. Bersedekap dengan wajah angkuh berbingkai rambut putih mengilap yang jatuh ke dahinya acak. “Kau terlihat seperti akan melanggar sesuatu di tata tertib.”

Hermione masih tidak bereaksi, malah sedikit tersindir akan sifat sok patuhnya.

“Well,” akhirnya ia buka mulut juga, “mungkin kau tidak sepenuhnya salah, Malfoy.”

Draco Malfoy mendekat dan bersandar di tepi tangga, menatap Hermione yang membeku berdiri di dua anak tangga terakhir. Ia mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi sementara satu sudut bibirnya terangkat, “Kenapa? Tidak ada aturan yang melarang seorang Slytherin untuk mengencani seorang Gryffindor kan?”

Hermione tersenyum, “Persis seperti jawaban yang aku inginkan.”

Draco menekuk sebelah lengannya sementara Hermione mencantolkan miliknya di sana, “Seperti yang kau inginkan, katamu?” tanya yang lelaki retoris.

“Kau harus brilian sebelum mengencani Hermione Granger,” jawab si gadis asal.

Draco meniup gelombang rambut cokelat Hermione yang jatuh ke bahu, tertawa ketika semua orang menatap mereka aneh.

Hermione malah menatap seragam yang masih melekat di masing-masing tubuh mereka. Hanya warna dasi yang beda. Tapi tetap terlihat kontras karena budaya.

Siapa yang percaya kalau seorang Slytherin dan Gryffindor bisa berjalan bertautan tangan seperti ini?

Well, tidak semua hal harus berjalan sebagaimana mestinya, kan? pikir Hermione dalam hati.

-END-

annyeong! /salah bahasa/ this is my first time writing a non-kpop fanfic. hihi. this is a dramione drabble.. i don’t know whether this is enough to be published or not but…. yeah, i like posting a drabble so… enjoy. dan kalau ada usul buat judul, warmly welcomed!!