
Title : The Missing Puzzle
Lenght : Two-shots
Main cast : Lee Jieun (IU), Cho Jino (SM The Ballad’s Jino)
Other cast : Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun)
Disclaimer : My first duet w/ beloved sista Kak Gia !! (yeay!) This is all her original idea and i just continue what she already built, so yeah, this is ours! About who writes what, just guess! (lol). I know this is crazy to pair IU-Jino but we just think they’re so cute together. Btw, the beautiful poster is made by @raraawr. So, enjoy our story! Comments r supa luuuuved!
Jieun menyeret flat shoes-nya memasuki lobby Seoul National Hospital dengan tidak bersemangat. Pikirannya dipenuhi terlalu banyak masalah tentang Jino, Kim Sunghee ahjumma, Cho Insung ahjussi, dan sesi clinical study-nya. Wajahnya terlihat sangat kusut dan tatapan matanya kosong. Sampai-sampai ia tidak membalas sapaan Yang Yoseob, teman sekelasnya, yang juga sedang melakukan clinical study-nya di departemen penyakit dalam.
Ia sampai di koridor lantai empat dan menyadari kalau keadaannya cukup lengang. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai keramik putih bersih itu. Ia melirik jam tangannya. Masih pukul sembilan pagi. Mungkin beberapa perawat dan dokter sedang melakukan pemeriksaan pagi ke kamar-kamar pasien.
Setelah menaruh tas dan beberapa perlengkapannya, Jieun memakai jas putihnya dan mengalungkan stetoskopnya, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar perawatan Kim Sunghee ahjumma. Ingin mengucapkan selamat pagi sekaligus memeriksa kondisi wanita itu pagi hari ini. Semoga saja ia sudah bangun.
Saat hendak membuka pintu, Jieun menyadari kalau sudah ada orang lain di dalam ruangan itu. Punggung tegap yang masih mengenakan setelan jas hitam, lengkap dengan sepasang sepatu pantofel mengilapnya, duduk di samping tempat tidur. Menatap wanita yang masih tertidur di situ dengan tatapan penuh kasih sayang. Sesekali ia mengusap kening istrinya dan menyingkirkan beberapa rambut yang tersampir di wajahnya. Beberapa kali ia tersenyum dan membuat wajah tampannya yang terlihat tegas melembut, namun menyiratkan rasa lelah yang luar biasa. Sinar penyesalan tampak jelas saat setetes airmata meluncur jatuh di pipinya, yang buru-buru dihapusnya.
Jieun tersenyum namun merasakan matanya menghangat.
“Annyeonghasseo.” ucap Jieun pelan sambil melangkah memasuki ruangan itu.
Cho Insung langsung menoleh ke arah pintu, sedikit salah tingkah sambil kembali mengusap wajahnya. Barangkali menghapus sisa-sisa air mata agar gadis manis di hadapannya tidak tahu kalau ia habis menangis.
“Ah, Jieun-ah? Kau sudah datang?” tanyanya sambil tersenyum. Jieun membalas senyum pucat itu. Mata Cho Insung ahjussi tampak lelah dan kantung matanya bengkak. Terlihat habis begadang dan menangis semalaman.
Ia tahu kalau ahjussinya ini tidak seperti yang dipikirkan Jino. Ia masih Cho Insung ahjussi yang hangat, yang dikenalnya bertahun-tahun lalu.
“Eomma, belum bangun?” kening Cho Insung berkerut sedikit mendengar panggilan itu terucap dari bibir Jieun. Namun sesaat kemudian ia mengerti dan menoleh ke arah istrinya.
“Semalam ia tidak bisa tidur, baru bisa tidur sekitar jam dua pagi. Semalam ia terus mengajakku mengobrol. Apa saja. Tentang Jino yang ketahuan membolos saat sekolah dasar, atau saat Jino terpilih menjadi ketua kelas saat sekolah menengah pertama. Aku sampai kewalahan meladeninya.” ujarnya sambil kembali tertawa kecil dan mengusap kening istrinya lagi.
“Ahjussi? Mau mengobrol sebentar denganku?” tanya Jieun. Ia lalu melirik ke arah Kim Sunghee ahjumma yang masih terlelap. “Tapi tidak di sini. Aku takut Eomma terbangun.”
Cho Insung melirik Jieun dengan tatapan bingung bercampur ingin tahu.
“Tapi bagaimana jika ia bangun dan kita tidak ada di sampingnya?”
Jieun tersenyum mendengar nada khawatir itu.
“Jangan khawatir. Itu sudah sering terjadi. Perawat akan segera datang sebentar lagi. Lagipula, kita hanya mengobrol sebentar saja.”
Cho Insung tampak berpikir sedikit lalu mengangguk pada Jieun.
“Kebetulan, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
***
Jieun menerima dua cangkir teh hangat dari ahjumma yang mengantarkan minuman pesanannya sambil mengucapkan terima kasih. Jieun mendorong cangkir putih bersih itu mendekat pada Cho Insung ahjussi, yang menerima minuman itu sambil tersenyum.
“Masih ingat minuman favoritku, Jieun-ah?” tanyanya.
Jieun mengangguk perlahan.
“Aku ingat. Saat ahjussi sangat sibuk dan lelah, Eomma selalu membuatkan satu cangkir teh ginseng hangat untuk ahjussi. Ah, tanpa gula yang berlebihan.”
Cho Insung tersenyum mendengar nada tulus yang terdengar dari ucapan Jieun. Menghangatkan hatinya tanpa disangka-sangka. Membuat akar penyesalan yang sejak kemarin merambati hatinya mulai hilang sedikit demi sedikit.
“Dimana Jino, Jieun-ah?”
“Dia ada di rumah Cho Kyuhyun-shi. Menginap di sana. Membantunya mengurus launching studio musik barunya di Gangnam.” Jawab Jieun. Merasakan ekspresi ahjussi-nya mengeras saat mendengar nama Cho Kyuhyun disebut. Tapi tidak lama, ia kembali tersenyum beberapa saat kemudian. Senyum getir dan penuh penyesalan.
“Anak itu sudah melalui masa-masa sulit yang kusebabkan. Biarkan ia rileks sedikit.”
Sunyi terasa memuakkan. Jieun berharap ada sesuatu yang bisa ia katakan. Tapi nihil, tidak ada kata-kata yang dirasakannya pantas untuk dilontarkan.
“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Pertemuan terakhir kita berada dalam situasi yang sangat buruk. Maafkan aku.”
Jieun hanya menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, ahjussi. Situasi seperti itu memang terkadang tidak bisa dihindari. Ya, seandainya ahjussi bisa menahan sedikit emosimu. Jino tidak akan semakin membencimu.” ujar Jieun blak-blakan. Cho Insung ahjussi kembali mengangguk-angguk perlahan sambil menyesap teh ginsengnya.
“Aku berpikir keras selama beberapa hari ini, Jieun-ah. Hingga otakku sampai di satu kesimpulan. Aku ini ayah yang sangat buruk ya?” tanya Cho Insung sambil melirik Jieun yang terdiam. Gadis itu menoleh padanya lalu tersenyum kecil.
“Ahjussi bukan ayah yang buruk. Ahjussi hanya melakukan kesalahan. Kesalahan adalah hal yang lumrah dilakukan oleh setiap manusia.” Jawabnya.
“Tapi kesalahanku ini sangat fatal. Aku sudah membuat anak dan istriku sendiri menderita. Sedangkan aku.. masih bersembunyi di balik kesibukanku dengan bisnis. Aku ini egois.” ujarnya. Nada suaranya terdengar begitu menyedihkan. Jieun mengerti betapa merananya ia.
Telapak tangan itu terasa sangat dingin dan kasar. Jieun meremasnya sedikit, mencoba mengalirkan sedikit ketenangan.
“Ahjussi, kau sama sekali belum terlambat untuk meminta maaf. Kau sama sekali belum terlambat untuk merengkuh hati Jino kembali. Kau sama sekali belum terlambat untuk kembali mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk Eomma. Ahjussi sama sekali belum terlambat.”
Cho Insung menatap Jieun dengan tatapan penuh kesangsian.
“Ada seseorang yang kini menganggap aku sebagai penjahat yang menghancurkan hidupnya, Jieun-ah. Ia sudah sangat membenciku. Dan orang itu adalah anakku sendiri. Anak yang sudah kebesarkan dengan sepenuh hati..” Cho Insung tersenyum getir sebelum melanjutkan kalimatnya. “aku terlalu menyayanginya, terlalu memaksanya untuk sukses dalam versiku sendiri. Padahal ia membencinya. Itu bukan jalan hidup yang ia pilih. Sekarang aku sangsi apakah ia masih menganggapku sebagai ayahnya atau tidak. Aku ragu-ragu ia mau menerima maafku atau tidak.” Read the rest of this entry »